Rabu, 03 Juli 2013

Mesum di Pos Ronda

Ayo Lagi ngapaiiiiinnn??


Selasa, 04 Juni 2013

Classic Panty

The Lesbians Girl... Watchin Here !!

Hot Girls in Sofa

merhaba 180 boy 70 kilo kumral kahve gözlü bir sexs erkeyim 20cm kalın iri aletimi amında isteyen 0553 480 33 58 amı sulanmış ateşi tavan yapmış yanan sekste deneyimli doyumsuz güvenilir erkek arayan sınırsız fantazi sert hard seks seven genç yaşlı azgın ateşli bayanlar lezler evli çiftler gizlilik güven saygı içersinde kaçamak yapmak sert sex boşalmak isterseniz arayın



Watch Back The Girl

Warch Back Run Girl

Satin Lingerie

Watch your Video and Get Horny

Rabu, 03 April 2013

Tante dan Pembantuku

Cerbung
Saat itu aku baru lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di Bandung. Di sana
aku tinggal di rumah pamanku. Paman dan bibi dengan senang hati
menerimaku tinggal di rumah mereka, karena paman dan bibiku yang sudah 4
tahun menikah belum juga punya anak sampai saat itu, jadi kata mereka
biar suasana rumahnya tambah ramai dengan kehadiranku.



Pamanku ini adalah adik ibuku paling kecil, saat itu dia baru berumur 35
tahun. Rumah pamanku sangat luas, di sana ada kolam renangnya dan juga
ada lapangan tenisnya, maklum pamanku adalah seorang pengusaha sukses
yang kaya. Selain bibiku dan pamanku, di rumah itu juga ada 3 orang
pembantu, 2 cewek dan seorang bapak tua berusia setengah umur, yang
bertugas sebagai tukang kebun.



Bibiku baru berumur 31 tahun, orangnya sangat cantik dengan badannya
yang termasuk kecil mungil akan tetapi padat berisi, sangat serasi
berbentuknya seperti gitar spanyol, badannya tidak terlalu tinggi kurang
lebih 155 cm. Dadanya yang kecil terlihat padat kencang dan agak
menantang. Pinggangnya sangat langsing dengan perutnya yang rata, akan
tetapi kedua bongkahan pantatnya sangat padat menantang. Wajahnya yang
sangat ayu itu, manis benar untuk dipandang. Kulitnya kuning langsat,
sangat mulus.



Kedua pembantu cewek tersebut, yang satu adalah janda berumur 27 tahun
bernama Trisni dan yang satu lagi lebih muda, baru berumur 18 tahun
bernama Erni. Si Erni ini, biarpun masih berumur begitu muda, tapi sudah
bersuami dan suaminya tinggal di kampung, bertani katanya.



Suatu hari ketika kuliahku sedang libur dan paman dan bibiku sedang
keluar kota, aku bangun agak kesiangan dan sambil masih tidur-tiduran di
tempat tidur aku mendengar lagu dari radio.

Tiba-tiba terdengar ketukan pada pintu kamarku, lalu terdengar suara,
"Den Eric.., apa sudah bangun..?" terdengar suara Trisni.

"Yaa.. ada apa..?" jawabku.

"Ini Den. Saya bawakan kopi buat Aden..!" katanya lagi.

"Oh.. yaa. Bawa masuk saja..!" jawabku lagi.



Kemudian pintu dibuka, dan terlihat Trisni masuk sambil tangannya
membawa nampan yang di atasnya terdapat secangkir kopi panas dan pisang
goreng. Ketika dia sedang meletakkan kopi dan pisang goreng di meja di
samping tempat tidurku, badannya agak merapat di pinggir tempat tidur
dan dalam posisi setengah membungkuk, terlihat dengan jelas bongkahan
pantatnya yang montok dengan pinggang yang cukup langsing ditutupi kain
yang dipakainya. Melihat pemandangan yang menarik itu dengan cepat rasa
isengku bangkit, apalagi ditunjang juga dengan keadaan rumah yang sepi,
maka dengan cepat tanganku bergerak ke obyek yang menarik itu dan segera
mengelusnya.



Trisni terkejut dan dengan segera menghindar sambil berkata, "Iihh..,
ternyata Den Eric jail juga yaa..!"

Melihat wajah Trisni yang masem-masem itu tanpa memperlihatkan ekspresi
marah, maka dengan cepat aku bangkit dari tempat tidur dan segera
menangkap kedua tangannya.

"Aahh.. jangaann Deenn, nanti terlihat sama si Erni, kan malu atuu..!"

Tapi tanpa memperdulikan protesnya, dengan cepat kutarik badannya ke
arahku dan sambil mendekapnya dengan cepat bibirku menyergap bibirnya
yang karena terkejut menjadi agak terbuka, sehingga memudahkan lidahku
menerobos masuk ke dalam mulutnya.



Dengan segera kusedot bibirnya, dan lidahku kumain-mainkan dalam
mulutnya, memelintir lidahnya dan mengelus-elus bagian langit-langit
mulutnya. Dengan cepat terdengar suara dengusan keluar dari mulutnya dan
kedua matanya membelalak memandangku. Dadanya yang montok itu bergerak
naik turun dengan cepat, membuat nafsu birahiku semakin meningkat.
Tangan kiriku dengan cepat mulai bergerilya pada bagian dadanya yang
menonjol serta merangsang itu, mengelus-elus kedua bukit kembar itu
disertai ramasan-ramasan gemas, yang dengan segera membangkitkan nafsu
Trisni juga. Hal itu terlihat dari wajahnya yang semakin memerah dan
nafasnya yang semakin ngos-ngosan.



Tiba-tiba terdengar suara dari arah dapur dan dengan cepat aku segera
melepaskannya, Trisni juga segera membereskan rambut dan bajunya yang
agak acak-acakan akibat seranganku tadi.

Sambil menjauh dariku, dia berkata dengan pelan, "Tuhkan.., apa yang
Trisni katakan tadi, hampir saja kepergok, Adeen genit siih..!"

Sebelum dia keluar dari kamarku, kubisikan padanya, "Triis, ntar malam
kalau semua sudah pada tidur kita teruskan yah..?"

"Entar nanti ajalah..!" katanya dengan melempar seulas senyum manis
sambil keluar kamarku.



Malamnya sekitar jam 21.00, setelah semua tidur, Trisni datang ke ruang
tengah, dia hanya memakai pakaian tidur yang tipis, sehingga kelihatan
CD dan BH-nya.

"Eeh, apa semua sudah tidur..?" tanyaku.

"Sudah Den..!" jawabnya.

Untuk lebih membuat suasana makin panas, aku telah menyiapkan film BF
yang kebetulan dapat pinjam dari teman. Lalu aku mulai menyetel film itu
dan ternyata pemainnya antara seorang pria Negro dan wanita Asia.



Terlihat adegan demi adegan melintas pada layar TV, makin lama makin
'hot' saja, akhirnya sampai pada adegan dimana keduanya telah telanjang
bulat. Si pria Negro dengan tubuhnya tinggi besar, hitam mengkilat
apalagi penisnya yang telah tegang itu, benar-benar dasyat, panjang,
besar, hitam mengkilat kecoklat-coklatan, sedangkan ceweknya yang
kelihatan orang Jepang atau orang Cina, dengan badannya kecil mungil
tapi padat, kulitnya putih bersih benar-benar sangat kontras dengan pria
Negro tersebut.


Bersambung......


Jumat, 29 Maret 2013

Kado Indah dari Kakaku

Kado Indah dari Kakaku
"Jon.. aku mau ngasih kado spesial buat elu, tapi.. elu nggak boleh
cerita sama siapapun juga, setuju?"

Langsung saja aku mengangguk,
walaupun bingung menduga-duga kado spesial apaan, apakah Blow Job? Belum
tentu, terusin saja baca ceritanya.



"Janji yah Jon.."



"Saya berjanji, Fifi kakakku tersayang.." kataku menegaskan dari sekedar
mengangguk.



"Jon, Fifi mau tahu.. kamu beneran belum pernah pacaran? maksudnya
nge-date berduaan ama cewek?" tanya dia.



"Bener Fi.. kan tiap malam minggu, kalau kagak ada pesta ultah, yah aku
di rumah saja kok surfing di internet, kamu sih kelayapan melulu malah
ninggalin aku sendirian kalau malam minggu" kataku, dia senyumnya makin
lebar.



"Jadi belum pernah pegang-pegang tubuh cewek dong?" tanyanya lagi,
memancing dikit.



"Yah pegang sih belum cuma kalo melihat sering?"



"Oh yah? dimana?" tanya Fifi kaget sedikit.



"Di internet.." jawabku cepat, memang betul sih. Dia tersenyum lagi..
heran kayaknya makin lama melihat Fifi tersenyum makin manis saja tuh
senyumnya, wah aku rasanya makin senang dan happy sekali melihat
bibirnya yang tersenyum.



"Jadi yang real dan asli belum pernah dong?" kata Fifi masih dengan
tersenyum. Bagiku ini bukan ledekan, tapi ucapan tulus kakak pada adik
yang memang akrab. Aku mengangguk.





"Fifi mau kasih hadiah khusus, tapi kamu harus janji tidak boleh
ngapa-ngapain kalo kagak disuruh. Mau nggak?" tanya Fifi, kakak
tersayangku ini. Aku mengangguk.



"Eh janji dulu.."



"Iya deh Joni janji Fifi sayang.." kataku memuaskan keinginan Fifi.



"Siap menerima hadiah?" tanyanya lagi sambil menegakkan badannya yang
tadinya duduk santai.



Aku mengangguk lalu berkata, "Siap boss.."





Fifi kemudian menaiki ranjang, sambil tangannya mendorong perlahan
tubuhku untuk bergeser sedikit. Ranjangku sih ukuran 160 lebarnya, jadi
muat saja kalau mau tidur berduaan. Lalu Fifi berlutut tegak di
sampingku, memandang mataku lekat-lekat masih dengan senyum manisnya.
Kemudian secara perlahan-lahan dia mengambil ujung bawah baju tidurnya.
Ops.. Fifi terlupa sesuatu.. buru-buru dia turun ranjang dulu, menuju ke
lemariku yang ada componya, dia pilih buru-buru salah satu CD lalu
diputarnya. Nah muncul lagu romantis, dipasangnya cukup keras tapi tidak
mengganggu keluar ruangan. Mungkin sekedar supaya pembicaraan kami tidak
terdengar saja kali. Lalu dia berjalan ke pintu dan mengunci pintu.





Aku merasa sedikit heran, mau ngapain nih. Si Fifi balik lagi ke
sampingku, berlutut di atas ranjang sambil melenggok menari mengikuti
irama lagu. Tangannya balik lagi memegang ujung bawah baju tidurnya dan
mulai memilin sedikit-sedikit, lalu menarik perlahan ke atas. Wah ini
sih striptease. Kutungguin saja deh. Begitu bawah bajunya mulai naik
setinggi bawah selangkangannya, aku makin deg-degan! Cepat sekali naik
lagi perasaanku. Lalu muncul celana dalamnya yang transparan dan seperti
tadi waktu dansa berbentuk V dan sebagian besar tali. Warnanya sih
hitam, ada merahnya sedikit persis ditengah dekat bawah pusarnya, eh tuh
merah bunga kecil, cuma satu.





Gila friends.. bulu kemaluannya terlihat. Belahan kewanitaannya sih
terbayang dalam bungkusan CD halus itu yang mengikuti bentuk bibir
kemaluannya. Wow.. sialan aku janji tidak boleh ngapa-ngapain. Wah
pingin sekali untuk menjamahnya. Tangan kiriku terpaksa memegangi
juniorku deh. Makin keras saja ngacengnya nih.

Selengkapnya:
Makin tinggi Fifi menarik bajunya, semakin jelas tubuh putihnya
terlihat. Begitu bagian bawah payudaranya muncul. Wow.. aku sampai
menelan ludah. deg-degan makin keras. Ops.. sial ada BH-nya! Eit tunggu
dulu, BH-nya seru banget.. juga hitam transparan dan puting susunya yang
kuduga besar, benar saja muncul dan terlihat jelas, kali ini aku tidak
perlu menebak-nebak lagi, ternyata warnanya merah sedang, nggak pink
sih, lebih tua sedikit tapi tidak coklat gelap. Saat bajunya melewati
kepalanya, aku ingin sekali memegang payudaranya. Tapi ingat janji.. wah
brengsek.. padahal si Fifi kan tidak melihat.





Dan saat bajunya sudah lolos melewati kepala, Fifi langsung membuangnya
ke atas karpet kamarku. Tangannya kembali turun lagi yang membuat
payudaranya terlihat dan berbentuk semakin menonjol saja. Gile bener..
sss.. alamak nggak tahan nih.. Kemudian Fifi menggeser posisi
berlututnya kali ini dia mengangkangiku. Wow.. sepertinya aku semakin
tidak tahan deh. Mana tangan kiriku sudah tidak lagi memegang si Junior
lagi dan dengan posisi baru ini otomatis Fifi menindih perutku. Dia
masih bergerak meliuk dan menari. Mungkin tidak nyaman menari di atas
selimut, dia menggeser dulu lalu mendadak menyingkapkan selimut untuk
membuangnya.





"Eit.. sorry Jon.. aku nggak tahu elu kalo tidur juga bugil!" kontan
kedua tanganku menutupi juniorku. Tapi mana bisa.. lah lagi siaga satu
gitu kok. Lagi pula dia ngomong dengan kalimat ..juga bugil! Wah dia
kalau tidur bugil dong?! kenapa tidak dari dulu aku masuk kamarnya kalau
dia sedang tidur.





Karena aku diam saja tidak berkata apa-apa, Fifi balik lagi berlutut di
atas perutku menghadap wajahku dengan sebelumnya mengambil tanganku
untuk melepaskan pegangan yang menutupi si Junior. Terpaksa tanganku
posisinya seperti orang menyerah kalau berdiri, kutaruh di samping
kepala. Sepertinya Fifi sedang bergerak menari sambil membuka BH-nya
deh.. tapi susah atau sengaja susah membukanya?





"Fi.. boleh aku bantuin membuka BH kamu?"



"Memang kupikir tadinya mau nyuruh elu yang bukain.. tapi gue kagok.."
lalu sambil berkata begitu dia rebahan dikit, tangannya menopang
tubuhnya di samping kepalaku, dengus nafasnya dekat sekali menyapu
wajahku. Karena posisi berlututnya di perutku, yah mulut dan hidungku
cuma kebagian lehernya saja. Wah wangi juga lehernya.. tanganku mulai
memeluknya dan mencari kaitan BH-nya di punggungnya. Biarpun sudah
ketemu sengaja aku lama-lamain. Enak gila.. memeluk tubuh hangat cewek
kece seperti ini.





"Ayo Jon.. jangan nakal, hadiahnya masih banyak.." kata Fifi lalu
menggeser tubuhnya yang berada di atasku sehingga menurun sedikit dan
wajahnya berhadapan dengan wajahku. Alamak.. dengus nafasnya yang
menyentuh wajahku membuatku konak lagi dan semakin bernafsu. Tidak tahu
siapa yang memulainya, tahu-tahu bibir kami nempel dan lidah Fifi
menyapu bibirku. Sepertinya sih Fifi juga nafsu sekali mau menciumku
kali, habis wajahku tetap lurus, tapi wajahnya miring-miring kok. Nah
kan dia yang berusaha lebih keras buat menciumku toh?





"Blp.. buka mulutnya Jon.. aku ajarin ciuman.." kata Fifi. Lalu kuikuti
membuka mulut, membiarkan lidah Fifi masuk ke dalam mulutku. Dia menyapu
gigi depanku, lalu lidahku didorong-dorong dan dibolak-balik segala, dan
malah lidahku dikitik-kitik dengan lidahnya juga. Wah seru juga loh,
tukar-tukaran ludah.





Aku lupa bahwa tanganku sudah melepas BH-nya apa belum yang jelas
tanganku mengusap punggungnya dengan bebas tanpa ganjalan BH segala.
Kuusap-usap terus punggungnya yang mulus dan hangat. Dada kami sih masih
terpisah oleh BH-nya. Ops.. baru aku bilang masih terpisah, Fifi menarik
BH-nya untuk disingkirkan. Sambil ciuman begitu, otakku mikirin bagian
bawah kami. Wah senjataku tergesek-gesek sama celana dalam mini si Fifi
nih, sakit dikit sih, lecet nggak yah?





"Fi.. boleh aku lepasin celana dalam elu nggak? kontol gue sakit
kegesek-gesek." kataku melepaskan ciuman sekejab. Akibatnya malah lepas
terus-terusan tuh.



"Eit.. jangan nakal dulu. Sudah bisa ciuman yang kuajarin?"



"Iya boss.." jawabku.



"Elu diam saja yah.." kata Fifi. Lalu dia bergerak semakin turun. Kali
ini sampai dia duduk di kakiku. Dia persisnya menduduki bagian ujung
kakiku, nggak diduduki habis sih, dia bersimpuh sedikit, sambil bergerak
perlahan-lahan wajahnya ikutan turun sambil mencium badanku juga. Geli
sekali loh, apalagi waktu dia mencium putingku. Wow.. sampai kupegang
kepalanya gara-gara geli. Untung dia tidak marah. Waktu hidungnya kena
bulu kemaluanku, makin geli dan si Junior mulai kena dengusannya dan
dikecup kepalanya, sepertinya sih kena mata tunggal di kepala si Junior
tuh.. geli banget sih.





Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo