Jumat, 29 Maret 2013

Kado Indah dari Kakaku

Kado Indah dari Kakaku
"Jon.. aku mau ngasih kado spesial buat elu, tapi.. elu nggak boleh
cerita sama siapapun juga, setuju?"

Langsung saja aku mengangguk,
walaupun bingung menduga-duga kado spesial apaan, apakah Blow Job? Belum
tentu, terusin saja baca ceritanya.



"Janji yah Jon.."



"Saya berjanji, Fifi kakakku tersayang.." kataku menegaskan dari sekedar
mengangguk.



"Jon, Fifi mau tahu.. kamu beneran belum pernah pacaran? maksudnya
nge-date berduaan ama cewek?" tanya dia.



"Bener Fi.. kan tiap malam minggu, kalau kagak ada pesta ultah, yah aku
di rumah saja kok surfing di internet, kamu sih kelayapan melulu malah
ninggalin aku sendirian kalau malam minggu" kataku, dia senyumnya makin
lebar.



"Jadi belum pernah pegang-pegang tubuh cewek dong?" tanyanya lagi,
memancing dikit.



"Yah pegang sih belum cuma kalo melihat sering?"



"Oh yah? dimana?" tanya Fifi kaget sedikit.



"Di internet.." jawabku cepat, memang betul sih. Dia tersenyum lagi..
heran kayaknya makin lama melihat Fifi tersenyum makin manis saja tuh
senyumnya, wah aku rasanya makin senang dan happy sekali melihat
bibirnya yang tersenyum.



"Jadi yang real dan asli belum pernah dong?" kata Fifi masih dengan
tersenyum. Bagiku ini bukan ledekan, tapi ucapan tulus kakak pada adik
yang memang akrab. Aku mengangguk.





"Fifi mau kasih hadiah khusus, tapi kamu harus janji tidak boleh
ngapa-ngapain kalo kagak disuruh. Mau nggak?" tanya Fifi, kakak
tersayangku ini. Aku mengangguk.



"Eh janji dulu.."



"Iya deh Joni janji Fifi sayang.." kataku memuaskan keinginan Fifi.



"Siap menerima hadiah?" tanyanya lagi sambil menegakkan badannya yang
tadinya duduk santai.



Aku mengangguk lalu berkata, "Siap boss.."





Fifi kemudian menaiki ranjang, sambil tangannya mendorong perlahan
tubuhku untuk bergeser sedikit. Ranjangku sih ukuran 160 lebarnya, jadi
muat saja kalau mau tidur berduaan. Lalu Fifi berlutut tegak di
sampingku, memandang mataku lekat-lekat masih dengan senyum manisnya.
Kemudian secara perlahan-lahan dia mengambil ujung bawah baju tidurnya.
Ops.. Fifi terlupa sesuatu.. buru-buru dia turun ranjang dulu, menuju ke
lemariku yang ada componya, dia pilih buru-buru salah satu CD lalu
diputarnya. Nah muncul lagu romantis, dipasangnya cukup keras tapi tidak
mengganggu keluar ruangan. Mungkin sekedar supaya pembicaraan kami tidak
terdengar saja kali. Lalu dia berjalan ke pintu dan mengunci pintu.





Aku merasa sedikit heran, mau ngapain nih. Si Fifi balik lagi ke
sampingku, berlutut di atas ranjang sambil melenggok menari mengikuti
irama lagu. Tangannya balik lagi memegang ujung bawah baju tidurnya dan
mulai memilin sedikit-sedikit, lalu menarik perlahan ke atas. Wah ini
sih striptease. Kutungguin saja deh. Begitu bawah bajunya mulai naik
setinggi bawah selangkangannya, aku makin deg-degan! Cepat sekali naik
lagi perasaanku. Lalu muncul celana dalamnya yang transparan dan seperti
tadi waktu dansa berbentuk V dan sebagian besar tali. Warnanya sih
hitam, ada merahnya sedikit persis ditengah dekat bawah pusarnya, eh tuh
merah bunga kecil, cuma satu.





Gila friends.. bulu kemaluannya terlihat. Belahan kewanitaannya sih
terbayang dalam bungkusan CD halus itu yang mengikuti bentuk bibir
kemaluannya. Wow.. sialan aku janji tidak boleh ngapa-ngapain. Wah
pingin sekali untuk menjamahnya. Tangan kiriku terpaksa memegangi
juniorku deh. Makin keras saja ngacengnya nih.

Selengkapnya:
Makin tinggi Fifi menarik bajunya, semakin jelas tubuh putihnya
terlihat. Begitu bagian bawah payudaranya muncul. Wow.. aku sampai
menelan ludah. deg-degan makin keras. Ops.. sial ada BH-nya! Eit tunggu
dulu, BH-nya seru banget.. juga hitam transparan dan puting susunya yang
kuduga besar, benar saja muncul dan terlihat jelas, kali ini aku tidak
perlu menebak-nebak lagi, ternyata warnanya merah sedang, nggak pink
sih, lebih tua sedikit tapi tidak coklat gelap. Saat bajunya melewati
kepalanya, aku ingin sekali memegang payudaranya. Tapi ingat janji.. wah
brengsek.. padahal si Fifi kan tidak melihat.





Dan saat bajunya sudah lolos melewati kepala, Fifi langsung membuangnya
ke atas karpet kamarku. Tangannya kembali turun lagi yang membuat
payudaranya terlihat dan berbentuk semakin menonjol saja. Gile bener..
sss.. alamak nggak tahan nih.. Kemudian Fifi menggeser posisi
berlututnya kali ini dia mengangkangiku. Wow.. sepertinya aku semakin
tidak tahan deh. Mana tangan kiriku sudah tidak lagi memegang si Junior
lagi dan dengan posisi baru ini otomatis Fifi menindih perutku. Dia
masih bergerak meliuk dan menari. Mungkin tidak nyaman menari di atas
selimut, dia menggeser dulu lalu mendadak menyingkapkan selimut untuk
membuangnya.





"Eit.. sorry Jon.. aku nggak tahu elu kalo tidur juga bugil!" kontan
kedua tanganku menutupi juniorku. Tapi mana bisa.. lah lagi siaga satu
gitu kok. Lagi pula dia ngomong dengan kalimat ..juga bugil! Wah dia
kalau tidur bugil dong?! kenapa tidak dari dulu aku masuk kamarnya kalau
dia sedang tidur.





Karena aku diam saja tidak berkata apa-apa, Fifi balik lagi berlutut di
atas perutku menghadap wajahku dengan sebelumnya mengambil tanganku
untuk melepaskan pegangan yang menutupi si Junior. Terpaksa tanganku
posisinya seperti orang menyerah kalau berdiri, kutaruh di samping
kepala. Sepertinya Fifi sedang bergerak menari sambil membuka BH-nya
deh.. tapi susah atau sengaja susah membukanya?





"Fi.. boleh aku bantuin membuka BH kamu?"



"Memang kupikir tadinya mau nyuruh elu yang bukain.. tapi gue kagok.."
lalu sambil berkata begitu dia rebahan dikit, tangannya menopang
tubuhnya di samping kepalaku, dengus nafasnya dekat sekali menyapu
wajahku. Karena posisi berlututnya di perutku, yah mulut dan hidungku
cuma kebagian lehernya saja. Wah wangi juga lehernya.. tanganku mulai
memeluknya dan mencari kaitan BH-nya di punggungnya. Biarpun sudah
ketemu sengaja aku lama-lamain. Enak gila.. memeluk tubuh hangat cewek
kece seperti ini.





"Ayo Jon.. jangan nakal, hadiahnya masih banyak.." kata Fifi lalu
menggeser tubuhnya yang berada di atasku sehingga menurun sedikit dan
wajahnya berhadapan dengan wajahku. Alamak.. dengus nafasnya yang
menyentuh wajahku membuatku konak lagi dan semakin bernafsu. Tidak tahu
siapa yang memulainya, tahu-tahu bibir kami nempel dan lidah Fifi
menyapu bibirku. Sepertinya sih Fifi juga nafsu sekali mau menciumku
kali, habis wajahku tetap lurus, tapi wajahnya miring-miring kok. Nah
kan dia yang berusaha lebih keras buat menciumku toh?





"Blp.. buka mulutnya Jon.. aku ajarin ciuman.." kata Fifi. Lalu kuikuti
membuka mulut, membiarkan lidah Fifi masuk ke dalam mulutku. Dia menyapu
gigi depanku, lalu lidahku didorong-dorong dan dibolak-balik segala, dan
malah lidahku dikitik-kitik dengan lidahnya juga. Wah seru juga loh,
tukar-tukaran ludah.





Aku lupa bahwa tanganku sudah melepas BH-nya apa belum yang jelas
tanganku mengusap punggungnya dengan bebas tanpa ganjalan BH segala.
Kuusap-usap terus punggungnya yang mulus dan hangat. Dada kami sih masih
terpisah oleh BH-nya. Ops.. baru aku bilang masih terpisah, Fifi menarik
BH-nya untuk disingkirkan. Sambil ciuman begitu, otakku mikirin bagian
bawah kami. Wah senjataku tergesek-gesek sama celana dalam mini si Fifi
nih, sakit dikit sih, lecet nggak yah?





"Fi.. boleh aku lepasin celana dalam elu nggak? kontol gue sakit
kegesek-gesek." kataku melepaskan ciuman sekejab. Akibatnya malah lepas
terus-terusan tuh.



"Eit.. jangan nakal dulu. Sudah bisa ciuman yang kuajarin?"



"Iya boss.." jawabku.



"Elu diam saja yah.." kata Fifi. Lalu dia bergerak semakin turun. Kali
ini sampai dia duduk di kakiku. Dia persisnya menduduki bagian ujung
kakiku, nggak diduduki habis sih, dia bersimpuh sedikit, sambil bergerak
perlahan-lahan wajahnya ikutan turun sambil mencium badanku juga. Geli
sekali loh, apalagi waktu dia mencium putingku. Wow.. sampai kupegang
kepalanya gara-gara geli. Untung dia tidak marah. Waktu hidungnya kena
bulu kemaluanku, makin geli dan si Junior mulai kena dengusannya dan
dikecup kepalanya, sepertinya sih kena mata tunggal di kepala si Junior
tuh.. geli banget sih.





0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo